SEJARAH JAKET KULIT GARUTan

jaket kulit
SEJARAH JAKET KULIT GARUTan dimulai dari adanya salah satu komoditas andalan dari pengrajin kulit di Kabupaten Garut yaitu produksi jaket berbahan kulit domba, yang di kalangan tertentu khususnya di lingkungan bisnis fashion terkenal dengan sebutan “Jaket Kulit Garut”.
Faktor pendukung terwujudnya sentra industri jaket kulit ini diantaranya adalah ketersediaan bahan baku. Sumber bahan baku di Kabupaten Garut cukup melimpah dengan lokasi yang strategis, berdekatan bahkan menyatu dalam lingkungan sentra industri kecil penyamakan kulit. Selain itu letak geografis Kabupaten Garut yang dekat dengan kota Bandung sebagai pusat perdagangan pakaian jadi dan Jakarta sebagai pusat perdagangan nasional, memungkinkan pelaku bisnis untuk terus serius meningkatkan produksi jaket kulit karena mudah dipasarkan.
Adanya permintaan terhadap jaket kulit yang terus meningkat dari daerah di luar Kabupaten Garut (pasaran lokal maupun nasional) seperti dari Bandung, Jakarta atau beberapa kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali maupun Sumatera telah mendorong pengrajin kulit di Kabupaten Garut tumbuh dan berkembang lebih cepat dibandingkan pengrajin kulit di daerah-daerah lainnya.
Di sukaregang Garut, tiap harinya dipenuhi dengan pengunjung yang didominasi oleh wisatawan domestik dan asing, terutama pada saat hari libur. Industri kerajinan kulit, khususnya jaket kulit inilah yang mampu menggeliat perekonomian penduduk Garut, khususnya Sukaregang dan mampu bertahan di tengah perekonomian nasional yang tidak menentu. Menurut survey, konon katanya jaket kulit garut terjual sekitar 2ribu jaket/bulan, sungguh angka yang fantastis.
Seiring berkembangnya industri ini dan telah mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat untuk memfasilitasi beberapa pengrajin untuk kemudian dijadikan komoditas daerah dan menjadikan magnet bagi para wisatawan domestik. Adapun potensi pasar sangat luas, selain memenuhi permintaan konsumen lokal dan nasional, Jaket Kulit Garut juga sudah merambah ke pasar internasional, seperti Singapura, Malaysia, Taiwan, Jepang dan negara-negara lainnya.
Adapun hambatan yang dihadapi adalah teknologi pengolahan untuk percepatan proses produksi dan lemahnya pengendalian kualitas terhadap komoditas barang yang dihasilkan sehingga dapat mempengaruhi kinerja citra komoditas yang sudah terbentuk. Jika hambatan ini tidak diatasi, maka pengrajin kulit Garut akan kalah bersaing dengan pengrajin kulit dari daerah lain yang ironisnya justru mengolah kulit tersamak dari Garut. Demikian sekilas mengenai sejarah jaket kulit garutan dari java leather